Minggu, 16 Oktober 2016

Kondisi Perekonomian Indonesia


Jika fisik kita kurang sehat, perut merasa sakit melilit, apa yang kita bayangkan? Sakit Maag mungkin.  Apa yang kita lakukan? Minum obat maag. Jika masih sakit, apa yang dilakukan? Terus minum obat maag hingga sembuh. Dan akhirnya kita sembuh. Suatu saat kita sakit perut lagi, apa yang kita lakukan? Tentu minum obat maag lagi bukan? Karena terbukti obat maag dapat menyelesaikan masalah yang kita alami. Setuju? Hal ini dilakukan bertahun – tahun ketika kita mengalami sakit perut. Jadi, masalahnya adalah: Sakit Perut. Solusinya adalah: Obat maag.
Namun, sakit perut itu sebenarnya masalah atau gejala? Masalah adalah akar penyebab terjadinya sakit / tidak sehat. Gejala adalah efek yang timbul akibat badan kita tidak sehat. Apa jadinya jika sakit perut itu hanya gejala, sedangkan masalah utamanya adalah munculnya bibit kanker di dalam usus kita (misalnya, amit – amit ya)? Tanpa disadari, sudah berapa lama kita abaikan masalah yang kita salah kira itu?
Mengapa orang memilih minum obat maag dan tidak memilih untuk pergi ke dokter? Alasannya: Cepat, murah, dan mudah. Kepusuhan hanya didasarkan kepraktisan bukan? Sekarang jaman instan Bung!
           
           Analogi inilah yang terjadi di dalam perekonomian Indonesia. Contoh: Kedelai. Siapa yang tidak tahu bahwa kedelai adalah bahan baku makanan rakyat kita? Tempe. Semua suka tempe bukan? Tetapi mengapa harga tempe naik alasannya karena impor kedelai naik?
Karena Indonesia tidak mampu memproduksi kedelai sebanyak kebutuhan rakyatnya. (Rakyat banyak adalah aset bangsa lho) Kalau tidak salah hanya 40% dari total kebutuhan kedelai yang dapat dipasok oleh petani lokal. Sisanya dipenuhi dengan impor kedelai. Persamaan dari sakit perut di atas adalah:
             1.   Impor kedelai = solusi = minum obat
2           2.   Pasokan petani lokal kurang= gejala = sakit perut
          
          Apa masalah dari kedelai ini? Apakah lahan pertanian kurang digarap serius? Yang jadi petani sedikit? Rugi menjadi petani kedele? Lahan dijual & dipakai untuk industri?
Masalah kedele dan masalah sakit perut contoh di atas memiliki kesamaan bukan? Yakni untuk memperbaiki masalah butuh biaya lebih besar & mahalwaktu lebih banyak tersita, dan repot. Tidak instan:)
Kedelai hanya 1 dari sekian banyak masalah. Beras, Buah, Minyak, dll. Inilah yang menjadi permasalahan dalam Ekonomi Indonesia, dimana budaya instan menjamur. Kebutuhan vital jangka panjang diambil menggunakan solusi instan. Maka dari itu kebijakan instan bukanlah hal yang cocok untuk solusi jangka panjang. Perlu dipikir secara detail/rinci untuk menemukan solusi tersebut

          Salahkah kebijakan Instan? TIDAK. Kita tetap butuh kebijakan jangka pendek, menengah, dan panjang. Karena ketika ada masalah kita perlu menanganinya dengan segera. Tetapi sejalan dengan itu, harus ada kegiatan paralel antara solusi jangka pendek dan jangka panjang.
1     1.   Minum obat dulu, jika sakit berlanjut hubungi dokter bukan?
2     2.  Impor dulu, kalau diperkirakan pasokan masih tetap kurang dalam jangka panjang, perluas lahan         pertanian bukan?
3     3.  Kota Jakarta terus berkembang, segera bangun perkantoran dulu untuk menampung tenaga kerja (sudah terjadi). Jangan lupa Jakarta akan semakin padat, bangun infrastruktur untuk jangka panjang.
Ketika ada masalah, dibutuhkan tindakan jangka pendek untuk solusinya. Tetapi selalu rencanakan kebijakan jangka panjang agar masalah jangka pendek tadi tidak perlu kembali muncul.
Pemimpin yang mampu mencari solusi seperti ini yang diharapkan dapat membawa Indonesia lebih maju dari kondisi saat ini.
Jika tidak ada perbaikan, apa akibatnya?
1    1. Ekspor selalu kalah dari impor
2    2. Neraca perdagangan selalu negatif
3    3. Nilai Rupiah akan terus melorot
4    4. Daya beli masyarakat yang sudah tinggi yang seharusnya menjadi motor penggerak perekonomian malahan tergerus daya belinya oleh inflasi yang tinggi (sami mawon)

             Rupiah adalah indikator terbaik melihat foreign out/in flow di Indonesia. Jadi ketika Rupiah kembali menguat dengan konstan, maka akan terlihat optimisme di pasar. Ingat, pasar finansial bergerak lebih cepat dari riil sekitar 3 – 6 bulan lebih awal. Jangan tunggu berita baik muncul baru bereaksi, tapi lihat pergerakan harga / pasar:)

NB : Mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata dalam penulisan ini, saya tidak bermaksud untuk menyinggung salah satu pihak apapun. Jika ada beberapa sumber yang lupa dicantumkan mohon maaf. Kritik dan saran dari pembaca sangat saya harapkan agar saya dapat membuat tulisan yang lebih baik. Semoga bermanfaat bagi pembaca, saya ucapkan terimakasih.

Sumber :

http://galerisaham.com/blog/kondisi-perekonomian-indonesia/

7 komentar:

  1. saya mohon izin untuk mengomentari artikel ini. dalam artikel ini terlalu banyak perumpamaan mulai dari sakit perut karena maag dan minum obat serta kedelai dan tempe. dari paragraf pertama ke paragraf dua tidak ada hubungannya. ada baiknya dijelaskan hubungan dari paragraf satu dan paragraf dua. selain itu ada baiknya penulis merapikan kembali tulisannya.

    BalasHapus
  2. Mohon izin kepada saudari Aminah untuk berkomentar.
    Menurut saya, artikel ini menggunakan gaya bahasa yang menarik seperti "bung" dan "sami mawon". Tetapi kurangnya penjelasan mengenai kebijakan instan dapat membuat pembaca kurang mengerti. Saya menyarankan untuk menjabarkan kata-kata yang kurang dimengerti oleh masyarakat secara spesifik. Semoga tulisan anda lebih baik lagi. Terima kasih

    BalasHapus
  3. Menurut saya, penulisan ini cukup menarik dari segi perumpamaannya. Bahasanya terlalu mudah untuk dipahami dikalangan masyarakat, namun jauh lebih baik jika anda memberikan perumpamaan yang masih setara dengan perekonomian ini, mungkin nanti dapat menjadi penulisan yang baik. Akan tetapi penulisan ini cukup kreatif saya akui karna memuat ide-ide penulis. Kembangkan lagi untuk kedepannya. Sangat bermanfaat. Terimakasih

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Artikelnya sangat menarik membuat saya ingin terus membacanya hingga selesai, sangat membantu saya dalam memahami perekonomian indonesia. Terima kasih

    BalasHapus
  6. artikel ini sangat menarik dibagian perumpamaan, tapi antara isi dan judul kurang sinkron. boleh menggunakan perumpamaan namun jangan terlalu banyak. sebelum diposting, alangkah baiknya dikoreksi terlebih dahulu agar tidak ada kesalahan dalam penulisan. kemudian judul dari artikel ini menurut saya kurang tepat. kemudian saya kurang mengerti dengan yang dimmaksud kebijakan dalam artikel ini, harusnya dijelaskan kebijakan dalam hal apa agar tidak rancu. dan antara paragraf yang satu dengan yang lainnya tidak ada hubungannya.
    semoga kritik dan saran dari saya dapat bermmanfaat.
    Terima Kasih

    BalasHapus
  7. mohon maaf saya akan memberikan sedikit saran. seharusnya essay yang ditulis oleh saudari perlu memberikan solusi kepada pembaca, terutama kepada para petani agarlebih mengetahui solusi yang baik dalam mengatasi masalah dari kedelai.

    BalasHapus